Selasa, 17 Maret 2009

Korelasi Kenaikan Emisi Karbondioksida dengan Suhu di Indonesia

Korelasi Kenaikan Emisi Karbondioksida dengan Suhu di Indonesia

Korelasi Kenaikan Emisi Karbondioksida dengan Suhu di Indonesia



W. Eko Cahyono


Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Jl. Dr.Djundjunan 133 Bandung 40173

Korespondensi Penulis, tel/fax : 022-6037445/6037443,

email: waluyo@bdg.lapan.go.id



ABSTRACT


The earth's atmosphere in particular carbon dioxide (CO2) and water vapor (H2O), acts like a greenhouse, trapping heat and making the earth warmer.This is one of the earth's natural processes, without which the earth would be an icy 32°C colder. However, human activity is adding more CO2 to the atmosphere, possibly enhancing the greenhouse effect and potentially resulting in global warming.

The burning of fossil fuels, like oil, coal and natural gases, are sources of energy that release CO2 into the atmosphere. CO2 is one of the primary greenhouse gases in the atmosphere which actually traps outgoing heat and warms the earth. Existing data (ref) shows that an increase of fossil fuel usage in Indonesia increases the CO2 concentration, which in turn increases the average surface temperature, following a linear regresion equation y = 2E-05x + 26.395, where x is the carbon dioxide and y is the average surface temperature.


Keywords: carbon dioxide (CO2), greenhouse, temperature dan global warming



ABSTRAK


Atmosfer bumi khususnya karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O), bertindak sebagai suatu rumah kaca, panas terperangkap dan membuat bumi panas. Ini adalah salah satu proses alamiah bumi, tanpa itu bumi akan menjadi 32°C lebih dingin . Bagaimanapun, aktivitas manusia akan menambah lebih banyak CO2 ke atmosfer, memungkinkan meningkatkan efek rumah kaca dan berpotensi menghasilkan pemanasan global.

Pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak, batubara dan gas-gas alami, adalah sumber energi yang melepaskan CO2 ke dalam atmosfer. CO2 adalah salah satu gas rumah kaca utama di dalam atmosfer yang sebenarnya memperangkap panas dan memanaskan bumi. Data yang ada menunjukkan bahwa peningkatan dari pemakaian bahan bakar fosil di Indonesia meningkatkan konsentrasi CO2, yang pada gilirannya meningkatkan temperatur permukaan, berikut sebuah persamaan regresi linier y = 2E-05x + 26.395, di mana x adalah karbon dioksida dan y adalah suhu permukaan.

Kata kunci : karbon dioksida (CO2), rumah kaca, suhu dan pemanasan global



Dipresentasikan pada SEMNAS KIMIA UGM


Carbon Monoxide Increase In Indonesia at Dry Season :

Observed by MOPITT Satellite



W. Eko Cahyono


Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Jl. Dr.Djundjunan 133 Bandung 40173

Korespondensi Penulis, tel/fax : 022-6037445/6037443,

email: waluyo@bdg.lapan.go.id



ABSTRACT


The effects of Forest Burning on Indonesia tropospheric carbon monoxide was analized, especialy in Sumatera and Kalimantan island from MOPITT (Measurements
Of Pollution In The Troposphere) Satellite data for shift in maximum tropospheric carbon monoxide from west to east over Pasific during 2003 – 2004, and comparison of the effects wet season on tropospheric carbon monoxide. The effects of forest burning over Indonesia region produced large increases in tropospheric Carbon monoxide.


Keywords: carbon monoxide, forest burning dan MOPITT satellite




Peningkatan Konsentrasi Karbon Monoksida Pada Musim Kering di Indonesia dari Pemantauan Satelit MOPITT



ABSTRAK


Telah dianalisis efek kebakaran hutan pada karbon monoksida troposfer Indonesia, khususnya di pulau Sumatera dan Kalimantan dari data satelit MOPITT (Measurements of Pollution In The Troposphere) untuk pergeseran maksimum pada karbon monoksida troposfer dari barat ke timur di atas Pasifik selama 2003-2004 serta dibandingkan terhadap efek musim basah pada karbon monoksida troposfer. Efek kebakaran hutan di atas wilayah Indonesia menghasilkan banyak peningkatan karbon monoksida troposfer.



Kata kunci : karbon monoksida, kebakaran hutan dan satelit MOPITT




Dipresentasikan pada SEMNAS KIMIA UGM




Peningkatan Konsentrasi PM 10 dan CO Pada Saat Kebakaran Hutan di Palangkaraya

W. Eko Cahyono

Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Jl. Dr.Djundjunan 133 Bandung 40173

email: waluyo@bdg.lapan.go.id


ABSTRACT


Particulate matter (PM) is the term used to describe very small diameter solids or liquids that remain suspended in the atmosphere. PM-10 and PM-2.5 refer to particulate matter less than 10 and 2.5 micro-meters (µm) in diameter.Particles are emitted from a variety of sources, including fossil-fuel combustion, forest burning metals and mineral processing, agricultural fields, and many others, but by far the largest category is fugitive dust from roads. Along with particulates, the major gases produced by forest burning include carbon dioxide (CO2),carbon monoxide (CO), methane (CH4), formaldehyde (HCHO), oxides of nitrogen (NOx= NO+NO2) and ammonia (NH3).

The effects of Forest Burning on Kalimantan carbon monoxide and PM 10 was analized, especialy in Palangkaraya from surface air data for transition season, and comparison of the effects wet dry 2007. The effects of forest burning over Palangkaraya region produced large increases in Carbon monoxide and PM 10 concentrations.


Keywords: PM 10, carbon monoxide and forest burning


ABSTRAK


Materi partikulat (PM) adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan padatan atau cairan-cairan dengan diameter sangat kecil yang tinggal di dalam atmosfer. PM-10 dan PM-25 mengacu pada materi kepartikelan pada diameter kurang dari 10 dan 2,5 micro-meters (µm). Partikel-partikel ini diemisikan dari bermacam sumber, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, pembakaran hutan, logam dan pengolahan mineral, ladang pertanian, dan banyak yang lainnya, tetapi kategori yang paling besar adalah debu dari jalan-jalan raya. Beserta partikulat-partikulat, gas-gas yang utama yang dihasilkan oleh kebakaran hutan termasuk karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), metana (CH4), formaldehida (HCHO), oksida nitrogen (NOX= NO+NO2) dan amoniak (NH3).

Telah dianalisis efek kebakaran hutan pada PM 10 dan karbon monoksida di Kalimantan, khususnya Palangkaraya dari data udara permukaan untuk musim peralihan serta dibandingkan terhadap efek musim kering 2007. Efek kebakaran hutan di atas wilayah Palangkaraya menghasilkan banyak peningkatan konsentrasi PM 10 dan karbon monoksida


Kata kunci :PM 10, karbon monoksida dan kebakaran hutan


Dipresentasikan pada SEMNAS KIMIA UGM



Dispersion of Carbon Monoxide in Bandung


W. Eko Cahyono1) dan Yoshida A.2)

1 ) Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Jl. Dr. Junjunan 133 Bandung 40173

email: waluyo@bdg.lapan.go.id

2) Program Studi Meteorologi

Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, ITB

Jl. Ganesa 10 Bandung 40132





Abstract


Air pollution in Bandung city about 80% is resulted from transportation sector. We have used data from motor vehicle emission from main road in Bandung to study dispersion pattern of air pollution especially CO in Bandung city . The study has been done by simulation to apply Taiwan Air Quality Model (TAQM).

This research is mainly concerned with the characteristics of pollutant dispersion over Bandung basin. In this experiment, a numerical air quality model which is developed by National Central University Taiwan was used. Meteorological data was generated by MM5 model and emission rate data was calculated from transportation vehicles in Bandung city main road.
The simulation result showed higher concentration of CO in westside area than eastside area of Bandung city during dry season. However the dispersion pattern is also influenced by local diurnal circulation effect such as mountain wind and valley wind.


Keywords: carbon monoxide (CO), dispersion, simulation,and TAQM




Dispersi Karbon Monoksida di Bandung


Abstrak


Pencemaran udara di kota Bandung sekitar 80% berasal dari sektor transportasi. Untuk mengetahui pola penyebaran polusi udara khususnya CO di Bandung, digunakan data dari emisi kendaraan bermotor dari jalan utama di Bandung, kemudian dilakukan simulasi menggunakan Taiwan Air Quality Model (TAQM).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penyebaran polutan di atas cekungan Bandung. Pada penelitian ini digunakan model kualitas udara yang dikembangkan National Central University – Taiwán. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data meteorologi yang dihasilkan dari model MM5 dan data laju emisi yang dihitung berdasarkan jumlah kendaraan pada jalan utama di kota Bandung.

Dari hasil simulasi tampak pada musim kering di daerah sebelah barat kota Bandung konsentrasi CO lebih tinggi dibandingkan sebelah timur kota Bandung. Akan tetapi pola penyebaran ini juga dipengaruhi oleh efek sirkulasi diurnal di daerah tersebut seperti angin gunung dan angin lembah.


Kata kunci : karbon monoksida (CO), dispersi, simulasi, dan TAQM




Semnas di TRISAKTI

ANALYSIS OF GLOBAL CARBON DIOXIDE EMISSIONS


W. Eko Cahyono

Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Jl. Dr.Djundjunan 133 Bandung 40173

email: waluyo@bdg.lapan.go.id



ABSTRACT

CO2 production from increased industrial activity (fossil fuel burning) and other human activities such as cement production and tropical deforestation has increased the CO2 concentrations in the atmosphere. Measurements of carbon dioxide amounts from Mauna Loa observatory show that CO2 has increased from about 313 ppm (parts per million) in 1960 to about 375 ppm in 2005

Global carbon dioxide (CO2) emissions from the burning of fossil fuels stood at a level 8.38 gigatons of carbon (GtC) in 2006, 20 percent above the level in 2000. Emissions grew 3.1 percent a year between 2000 and 2006, more than twice the rate of growth during the 1990s. Carbon dioxide emissions have been growing steadily for 200 years, since fossil fuel burning began on a large scale at the start of the Industrial Revolution. But the growth in emissions is now accelerating despite unambiguous evidence that carbon dioxide is warming the planet and disrupting ecosystems around the globe.

The natural production and absorption of carbon dioxide (CO2) is achieved through the terrestrial biosphere and the ocean. However, humankind has altered the natural carbon cycle by burning coal, oil, natural gas and wood and since the industrial revolution began in the mid 1700s. Carbon Dioxide levels, largely man made, are increasing the world average temperture. Existing data (ref) shows that an increase of fossil fuel usage in Indonesia increases the CO2 emission, which in turn increases the average surface temperature, following a linear regresion equation y = 2E-05x + 26.395, where x is the carbon dioxide and y is the average surface temperature.


Keywords: carbon dioxide (CO2), greenhouse gas, temperature and global warming



Analisis Emisi Karbon Dioksida Global


ABSTRAK

Produksi CO2 dari kenaikan aktivitas industri (pembakaran bahan bakar fosil) dan aktivitas manusia lainnya seperti produksi semen dan deforesisasi tropik telah menambah konsentrasi CO2 di atmosfer. Pengukuran jumlah karbon dioksida dari Observatorium Mauna Loa telah menunjukkan kenaikan CO2 dari sekitar 313 ppm (parts per million) pada 1960 menjadi 375 ppm pada 2005

Emisi karbon dioksida global (CO2) dari pembakaran bahan bakar fosil berada pada tingkat 838 gigatons dari karbon (GtC) dalam 2006, 20 persen di atas tingkatan pada 2000. Emisi tumbuh 3,1 persen satu tahun antara 2000 dan 2006, lebih dari dua kali tingkat pertumbuhan selama 1990an. Emisi karbon dioksida sedang tumbuh dengan mantap selama 200 tahun, sejak pembakaran bahan bakar fosil mulai suatu skala besar-besaran di awal Revolusi Industri. Tetapi pertumbuhan emisi kini meningkat meskipun jelas membuktikan bahwa karbondioksida memanskan planet dan mengganggu ekosistem-ekosistem di sekitar bumi

Produksi dan penyerapan alami karbondioksida dicapai melalui biosfer terestrial dan samudra. Bagaimanapun, manusia sudah mengubah siklus karbon yang alami dengan pembakaran batubara, minyak, gas-alam dan kayu sejak revolusi industri mulai pertengahan tahun 1700an. Level Karbondioksida sebagian besar dari perbuatan manusia telah meningkatkan rata-rata temperatur dunia. Data yang ada menunjukkan bahwa peningkatan dari pemakaian bahan bakar fosil di Indonesia meningkatkan emisi CO2, yang pada gilirannya meningkatkan temperatur permukaan, berikut sebuah persamaan regresi linier y = 2E-05x + 26.395, di mana x adalah karbon dioksida dan y adalah suhu permukaan.

Kata kunci : karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca, temperatur dan pemanasan global

Semnas di TRISAKTI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar